Kamis, 05 Februari 2015

SEJARAH KOTA PASURUAN

23.30


SEJARAH KOTA PASURUAN

Pasuruan adalah sebuah kota pelabuhan kuno. Pada zaman Kerajaan Airlangga, Pasuruan sudah dikenal dengan sebutan "Paravan" . Pada masa lalu, daerah ini merupakan pelabuhan yang sangat ramai. Letak geografisnya yang strategis menjadikan Pasuruan sebagai pelabuhan transit dan pasar perdagangan antar pulau serta antar negara. Banyak bangsawan dan saudagar kaya yang menetap di Pasuruan untuk melakukan perdagangan. Hal ini membuat kemajemukan bangsa dan suku bangsa di Pasuruan terjalin dengan baik dan damai.
JASA BESAR UNTUNG SURAPATI
Pasuruan yang dahulu disebut Gembong merupakan daerah yang cukup lama dikuasai oleh raja-raja Jawa Timur yang beragama Hindu. Pada dasawarsa pertama abad XVI yang menjadi raja di Gamda (Pasuruan) adalah Pate Supetak, yang dalam babad Pasuruan disebutkan sebagai pendiri ibukota Pasuruan.
Menurut kronik Jawa tentang penaklukan oleh Sultan Trenggono dari Demak, Pasuruan berhasil ditaklukan pada tahun 1545. Sejak saat itu Pasuruan menjadi kekuatan Islam yang penting di ujung timur Jawa. Pada tahun-tahun berikutnya terjadi perang dengan kerajaan Blambangan yang masih beragama Hindu-Budha. Pada tahun 1601 ibukota Blambangan dapat direbut oleh Pasuruan.
Pada tahun 1617-1645 yang berkuasa di Pasuruan adalah seorang Tumenggung dari Kapulungan yakni Kiai Gede Kapoeloengan yang bergelar Kiai Gedee Dermoyudho I. Berikutnya Pasuruan mendapat serangan dari Kertosuro sehingga Pasuruan jatuh dan Kiai Gedee Kapoeloengan melarikan diri ke Surabaya hingga meninggal dunia dan dimakamkan di Pemakaman Bibis (Surabaya).
Selanjutnya yang menjadi raja adalah putra Kiai Gedee Dermoyudho I yang bergelar Kiai Gedee Dermoyudho II (1645-1657). Pada tahun 1657 Kiai Gedee Dermoyudho II mendapat serangan dari Mas Pekik (Surabaya), sehingga Kiai Gedee Dermoyudho II meninggal dan dimakamkan di Kampung DermoyudhoKelurahan Purworejo, Kota Pasuruan. Mas Pekik memerintah dengan gelar Kiai Dermoyudho (III) hingga meninggal dunia pada tahun 1671 dan diganti oleh putranya, Kiai Onggojoyo dari Surabaya (1671-1686).

Kiai Onggojoyo kemudian harus menyerahkan kekuasaanya kepada Untung Suropati. Untung Suropati adalah seorang budak belian yang berjuang menentang Belanda, pada saat itu Untung Suropati sedang berada di Mataram setelah berhasil membunuh Kapten Tack. Untuk menghindari kecurigaan Belanda, pada tanggal 8 Februari 1686Pangeran Nerangkusuma yang telah mendapat restu dari Amangkurat I (Mataram) memerintahkan Untung Suropati berangkat ke Pasuruan untuk menjadi adipati (raja) dengan menguasai daerah Pasuruan dan sekitarnya.
Untung Suropati menjadi raja di Pasuruan dengan gelar Raden Adipati Wironegoro. Selama 20 tahun pemerintahan Suropati (1686-1706) dipenuhi dengan pertempuran-pertempuran melawan tentara Kompeni Belanda. Namun demikian dia masih sempat menjalankan pemerintahan dengan baik serta senantiasa membangkitkan semangat juang pada rakyatnya.
Pemerintah Belanda terus berusaha menumpas perjuangan Untung Suropati, setelah beberapa kali mengalami kegagalan. Belanda kemudian bekerja sama dengan putra Kiai Onggojoyo yang juga bernama Onggojoyo untuk menyerang Untung Suropati. Mendapat serangan dari Onggojoyo yang dibantu oleh tentara Belanda, Untung Suropati terdesak dan mengalami luka berat hingga meninggal dunia (1706). Belum diketahui secara pasti dimana letak makam Untung Suropati, namun dapat ditemui sebuah petilasan berupa gua tempat persembunyiannya pada saat dikejar oleh tentara Belanda di Pedukuhan Mancilan, Kota Pasuruan.
Sepeninggal Untung Suropati kendali kerajaan dilanjutkan oleh putranya yang bernama Rakhmad yang meneruskan perjuangan sampai ke timur dan akhirnya gugur di medan pertempuran (1707).
Onggojoyo yang bergelar Dermoyudho (IV) kemudian menjadi Adipati Pasuruan (1707). Setelah beberapa kali berganti pimpinan pada tahun 1743 Pasuruan dikuasai oleh Raden Ario Wironegoro. Pada saat Raden Ario Wironegoro menjadi Adipati di Pasuruan, yang menjadi patihnya adalah Kiai Ngabai Wongsonegoro.
Suatu ketika Belanda berhasil membujuk Patih Kiai Ngabai Wongsonegoro untuk menggulingkan pemerintahan Raden Ario Wironegoro. Raden Ario dapat meloloskan diri dan melarikan diri ke Malang.
Sejak saat itu seluruh kekuasaan di Pasuruan dipegang oleh Belanda. Belanda menganggap Pasuruan sebagai kota bandar yang cukup penting sehingga menjadikannya sebagai ibukota karesidenan dengan wilayah: Kabupaten MalangKabupaten ProbolinggoKabupaten Lumajang, dan Kabupaten Bangil.
Karena jasanya terhadap Belanda, Kiai Ngabai Wongsonegoro diangkat menjadi Bupati Pasuruan dengan gelar Tumenggung Nitinegoro. Kiai Ngabai Wongsonegoro juga diberi hadiah seorang putri dari selir Kanjeng Susuhunan Pakubuono II dari Kertosuro yang bernama Raden Ayu Berie yang merupakan keturunan dari Sunan Ampel, Surabaya. Pada saat dihadiahkan, Raden Ayu Berie dalam keadaan hamil, dia kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki yang bernama Raden Groedo. Saat Kiai Ngabai Wongsonegoro meninggal dunia, Raden Groedo yang masih berusia 11 tahun menggantikan kedudukannya menjadi Bupati Pasuruan dengan gelar Kiai Adipati Nitiadiningrat (Berdasarkan Resolusi tanggal 27 Juli 1751).
Adipati Nitiadiningrat menjadi Bupati di Pasuruan selama 48 tahun (hingga 8 November 1799). Adipati Nitiadiningrat (I) dikenal sebagai Bupati yang cakap, teguh pendirian, setia kepada rakyatnya, namun pandai mengambil hati Pemerintah Belanda. Karya besarnya antara lain mendirikan Masjid Agung Al Anwar bersama-sama Kiai Hasan Sanusi (Mbah Slagah).
Raden Beji Notokoesoemo menjadi bupati menggantikan ayahnya sesuai Besluit tanggal 28 Februari 1800 dengan gelarToemenggoeng Nitiadiningrat II. Pada tahun 1809, Toemenggoeng Nitiadiningrat II digantikan oleh putranya yakni Raden Pandjie Brongtokoesoemo dengan gelar Raden Adipati Nitiadiningrat III. Raden Adipati Nitiadiningrat III meninggal pada tanggal 30 Januari 1833 dan dimakamkan di belakang Masjid Al Anwar. Penggantinya adalah Raden Amoen Raden Tumenggung Ario Notokoesoemo dengan gelar Raden Tumenggung Ario Nitiadiningrat IV yang meninggal dunia tanggal 20 Juli 1887. Kiai Nitiadiningrat I sampai Kiai Nitiadiningrat IV lebih dikenal oleh masyarakat Pasuruan dengan sebutan Mbah Surga-Surgi.

Pemerintahan Pasuruan sudah ada sejak Kiai Dermoyudho I hingga dibentuknya Residensi Pasuruan pada tanggal 1 Januari 1901. Sedangkan Kotapraja (Gementee) Pasuruan terbentuk berdasarkan Staatblat 1918 No.320 dengan nama Stads Gemeente Van Pasoeroean pada tanggal 20 Juni 1918.
Sejak tanggal 14 Agustus 1950 dinyatakan Kotamadya Pasuruan sebagai daerah otonom yang terdiri dari desa dalam 1 kecamatan. Pada tanggal 21 Desember 1982 Kotamadya Pasuruan diperluas menjadi 3 kecamatan dengan 19 kelurahan dan 15 desa. Pada tanggal 12 Januari 2002 terjadi perubahan status desa menjadi kelurahan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 10 tahun 2002, dengan demikian wilayah Kota Pasuruan terbagi menjadi 34 kelurahan. Berdasarkan UU no.22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah terjadi perubahan nama dari kotamadya menjadi kota maka Kotamadya Pasuruan berubah menjadi Kota Pasuruan.



Legenda Asal usul Pasuruan
Pasuruan merupakan salah satu wilayah yang berada di Jawa Timur. di sana terkenal dengan banyak pondok. di pasuruan juga lah ada mata aiR yang bernama "mata air UMBULAN". Kali ini saya akan memberikan cerita singkat tentang asal usul nama Pasuruan itu. Mungkin anda sudah pernah membacanya di buku sejarah.   
Pada Zaman dahulu kala, ada sebuah kerajaan yang besar di Jawa Timur. Kerajaan Tersebut bernama "Mataram". Saat itu, yang menjadi Rajanya adalah Mpu Sindok yang bergelar Sri Isana Tungga. 
Mpu Sindok merupakan Raja yang adil dan Bijaksana, Sehingga pada pemerintahannya, kerajaan mataram bisa hidup dengan makmur. Suatu hari ada utusan dari majapahit yang menghadap Mpu Sindok mengabarkan bahwa Raja Majapahit, Hayam Wuruk akan singgah ke kerajaan mataram. 
Raja Hayam Wuruk melakukan perjalanan dalam rangka mencari seorang pertapa sakti bernama Kuti Darbaru di desa Padameyan. Sebuah desa di sebelah utara Kepulungan. Saat itu, kerajaan majapahit sedang ada wabah penyakit yang tidak bisa disembuhkan, sudah bermacam cara digunakan namun belum berhasil mengusir wabah tersebut. Konon, Hanya Pertapa Kuti Darbarusaja yang bisa menyembuhkannya. Raja Hayam Wuruk mendapatkan wangsit tersebut melalui mimpinya. 
Setelah mendapat kabar bahwa kerajaan Mataram akan didatangi seorang raja Majapahit. Mpu sindok pun segera melakukan beberapa persiapan untuk menyambut beliau. (Mungkin kalau sekarang mirip dengan Indonesia jika ada kunjungan dari Negara lain ya..) Diantaranya adalah, memerintahkan pembangunan candi. Dengan susah payah, candi tersebut pun akhirnya berhasil dibangun. Pembuatan candi tersebut terkendala, karena ada upaya sabotase dari arya penangsang. Arya Penangsang sakit hati lantaran pernah dihukum oleh Mpu Sindok. 
Singkat Cerita, Raja Hayam Wuruk Pun sampai di Kerajaan Mpu Sindok, Beliau di jamu dengan sangat baik oleh sang Raja Mataram. Salah satu yang jamuannya adalah Sirih / Suruh. Lengkap dengan puan emas, gambir, kapur, dan pinang. Saat Mengunyah suruh tersebut (nyuruh) , sang raja hayam Wuruk berulang kali mengucapkan "Pasuruhan". Yang berarti Mataram tempatnya Suruh.
Akhirnya, tempat yang digunakan oleh Mpu Sindok Untuk menyambut Raja Hayam Wuruk Itu diberi nama Pasuruhan. Lama-kelamaan, karena lebih mudah diucapkan, Nama Pasuruhan berubah menjadi Pasuruan.

Kisah ini ada beberapa orang yang mengatakan hanya 
Legenda, karena memang sulit untuk menelusuri cerita yang hanya disampaikan melalui lisan. Namun ada pula yang menganggap cerita diatas adalah Sejarah Pasuruan yang asli..



SEJARAH PASURUAN
Pasuruan Raya bisa dibilang sebagai mempunyai lingkungan fisis-alamiah yang beragam. Antara suatu sub-area dengan sub-area lain boleh jadi berkarakter ekologis yang berbeda, dan karenanya aktifitas sosial-budaya yang berlangsung di atasnya juga berlainan. Pada sub-area di sisi utara Pasuruan terbentang Laut Jawa, tepatnya perairan laut antara ujung timr Jawa Timur dan Pulau Madura. Sementa-ra di sisi timur bertengger Gunung Tengger dan di sisi barat-laut menjulang tiga gunung yang bersebelahan, yaitu Gunung Arjuno beserta anaknya “bukit Ringgit, Welirang (Ardi Kumukus) dan Gunung Penanggungan (Ardi Pawitra).

Dataran bisa dikatakan berada antara Pantura Jawa dan gunung-gunung tersebut, yang pada kini cenderung dijadikan pemusatan (aglomerasi) bagi permukiman sekaligus se-bagi tempat bagi berlangsungnya aneka kegiatan hidup manusia. Namun di masa lalu, tepatnya pada Masa Hindu-Buddha, justru pada lereng gunung-gunung yang diyakini sebagai gunung suci (holy mountain) ini aktivitas sosial-budaya diselenggarakan. Bahkan, suatu tempat di lereng utara Gunung Penanggungan, yaitu pada situs Jedong, pernah dijadikan salah satu ibukota Kerajaan Mataran semasa peme-rintahan raja Airlangga, dengan nama ibukota Wotanmas – kini berubah menjadi nama Dukuh Watanmas Jedong.

Kawasan Pantura Jawa di wilayah Pasuruan adalah lokasi penting. Bukan saja karena di lokasi ini orang dapat mengusahakan pencaharian kenelayanan, tapi juga beberapa tempat di Pantura Jawa pada wilayah Pasuruan dapat dikembankan menjadi pekabuhan laut. Pada masa lalu, Pasuruan memiliki dua pelabuhan, yang acap disebut dengan “Pasuruan I dan Pasuruan II”. Pelabuhan Pasuruan I di muara Sungai Porong yang dulu berlokasi di antara Bangil – Rembang bahkan menjadi pelabuhan penting. Dari pelabuhan inil Raden Wijaya menyeberang ke Songhenep di Madura Wetan untuk meminta perlindungan kepada Aryya Wiraja, Keberadaan pelabuhan ini juga menjadi faktor penyebab bagi tumbuh berkembangnya Bangil sebagai kota dagang yang dimotori oleh komunitas Arab dan Cina Muslim.




Geostrategis Pasuruan
Pasuruan sebagai suatu wilayah geografis tak cukup sekedar dilihat dalam lingkup internal, yaitu dalam batas-batasnya sebagai kabupaten tersendiri, namun perlu pula diamati dalam relasinya dengan daetaah-daerah lain, khususnya daerah tetangganya. Dengan analisis reliasional ini, akan tergambar bagimana posisi sua-tu darah dalam bentang geografis yang lebih luas, dan seterusnya gambaran posisi rah yang geografisnya itu bisa dipergunakan untuk melakukan analisis mengenai peran dan latar perkembangannya. Tidak sedikit bahwa suatu daerah yang lantaran geostrategisnya memainkan peran penting disuatu ka wasan dan lantaran itu pula daerah tersebut mengalami proses perkembangan relatif pesat. Kendati demikian, geostrategis bukan satu-satu faktor atau faktor paling utama yang menjadi penentu bagi peran dan perkembangan daerahnya.
Bentang luas wilayah Kabupaten Pasuruan menjadikan daerah ini mempunyai: (a) sub-areal bahari di Pantura Jawa, (b) sub-sub areal bergunung-gunung di lereng dan lembahTengger, Arjuna-Ringgit, Welirang dan Penanggungan, dan (3) sub-areal dataran di antara keduanya, Kabupaten Pasuruan dengan demikian memiliki sub-sub areal geografis yang beragam. Antara satu dengan lainnya terjalin oleh jaringan jalan, baik jalan darat ataupun jalan air. Bahkan, sejumlah dalam wilayah Kabupenten Pasuruan merupakan jalan antar daerah (kota/kabupaten) serta antar propinsi. Jalan air, khususnya jalur laut pada “jalur simpang Selat Madura” membuka hubungannya dengan kawasan di Pulau Madura dan pulau-pulai lain di Nusantara.
Pasuruan Masa Awal dan Perkembangan Islam
Selain nama “Pasuruan” yang beberapa kali disebut dalam Nagarakretaga-ma, ada nama lain yang dilokasikan di wilayah Pasuruan yang diberitakan dalam sumber data tekstual pada Masa Awal Perkembangan Islam, yaitu nama “Gamda”. Nama ini beberapa kali diberitakan oleh Tome Pires dalam “Suma Oriental”. Pada dasawarsa pertama abad ke-16 yang menjadi raja di Gamda adalah putra “Guste Pate”– mahapatih kerajaan besar “kafir” (Majaphait). Ia adalah menantu dari “Pa-te Pijntor”, yaitu raja “kafir” yang berkuasa di Blambngan, dan sekaligus menantu raja Madura. Dengan demikian, secara ganeologis penguasa Pasuruan masih ber-kerabat (putra) dari penguasa Majapahit, yaitu Guste Pate – bisa diidentifikasi dengan Penguasa pada “kantong kekuasaan Hindu” Sengguruh di Malanag Sela-tan. Menutut informasi Pires, kala itu Sengguruh termasuk dalam wilayah Gamda.
Selain itu terdapat jalinan kekerabatan antara Pasuruan dengan Blambangan serta Pasuruan dengan Madura lewat perkawianan poltik. Secara politis kala itu kedu-dukan Pasuruan [sebagai daerah kekuasaan Hindu] terbilang masih kuat, meski di daerah pesisiran lainnya pada Pantura Jawa telah tumbuh Kasultanan Islam, yakni Demak dan kemudian Giri. Para penguasa ‘kafir” di pedalaman Jawa Tumur, ter-masuk juga Gamda, bersemangat untuk menentang pasukan-pasukan Islam yang mendesak masuk ke wilayah Jawa Timur.
Pires menyebut penguasa Gamda (Pasuruan) dengan nama “Pate Sepetat”. Nama “Sepetat” adalah pengucapan dalam lidah orang Portugis untuk tokoh yang dalam ‘Babad Pasuruan” dinamai “Menak Sepetak, atau Menak Supetak” sebagai  pendiri Kota Pasuruan. Dalam legenda lokal ini Sepetak dikisahkan sebagai ber-ayah seekor anjing. Metafora ini serupa dengan legenda totemis Sangkuriang. Ada kemukinan pengkisahan bahwa ayah Sepetak sebagai seekor “anjing” adalah pen-citraan bernada merendahkan, yang ibaratkan orang “kafir” sebagai anjing, hewan yang najis. Penyebutan gelar “menak” bagi pengusa di Pasuruan itu memberi pe-tunjuk bahwa legenda ini berasal dari pasca Masa Hindu-Buddha.
Dalam catatan Pires, jabatan yang disandang oleh Sepetat adalah “Pate”, berasal dari kata “patih” ataupun “mahapati[h]”, atau bisa jadi dari kata “pati”. Sedangkan jabatan mentua-nya, pengusa di Blambangan, adalah “Pijntor”, suatu transelir Potugis dari istilah Jawa Kuna “Bhatara”. Informasi “Suma Oriental” ini memberi gambaran bahwa hingga permulaan tahun 1500-an pengaruh Hindu-Buddha di Pasuruan masih cu-kup kuat, lantaran pemegang tampuk kekuasaan di sini adalah keturunan penguasa Majaphit dan sekaligus menanti penguasa Blambangan da Madura. Atas bantuan mertuanya, Pate Sepetat memerangi raja Surabaya dan menghalang-halangi proses penyebaran Islam di Jawa Timur dan ujung timur Jawa.




Pengaruh budaya-politik Demak atas Pasuruan baru berlangsung pada ta-hun 1535, empat tahun setelah penaklukan atas Surabaya. Sedangkan penaklukan terhadap Sengguruh baru bisa direalisasikan 10 tahun pasca penaklukan Pasuruan. Kendati penguasa di Pasuruan berhasil dikalahkan oleh pasukan Demak di bawah pimpinan Sultan Tenggono, namun bukan berarti bahwa dengan serta merta pada waktu itu seluruh warga Pasuruan berhasil diIslamkan.
Ketika Sultan Tenggono berhasil menaklukkan Pasuruan dalam rengka ekspansi Demak ke wilayah Jawa Timur untuk menundukkan para penguasa daerah yang masih “kafir”. Islamisasi Demak ke Jawa Timur berlangsung bersamaan dengan ekspansi politik kasultanan Islam perdana di Jawa ini.

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

© 2013 kodok lompat.com. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top